I would blame it on my Javanese trait
To avoid confrontation at all costs.
To react even to disturbing news with a resigned smile and soft words.
Javanese who never give a direct refusal to any request but cluttered in giving and taking hints.
It was my mom who irately lectured me every morning saying that I would never get a job if I study politics in university.
It was my dad who squawked my supervisor, saying that he could pay me better than the company offered me as a news reporter.
I avoided the confrontation. I reacted with a resigned smile and soft words.
It took 12 years for my mom to understand that degree in social science can land me a range of employment offers. It took 5 years for my dad to recognize that journalism can give me more than 3 meals a day.
Yesterday, a scriptwriter lashed out at me for something she later called as a sum up of misinterpretation and miscommunication. Having my producer stands beside me is enough. “It is rubbish” said he, commenting on the scriptwriter’s e-mail, “I trust you more than her”.
I know it’s going to take some time for her to solve the misunderstanding puzzle and realize that she wouldn’t need to be furious if only she had been willing to communicate trustfully and equally.
I avoided the confrontation. I reacted with resigned smile and soft words. Not only because of my Javanese trait, but also for believing that there are no perpetual enemies.
Ibu dan Jurnal itu
Rumah besar di depan jalan itu sudah lama menyita perhatian. Pertama kali saat remaja, sewaktu ditempati oleh keluarga dengan anak laki-laki lucu; tepat saat hormon saya dan teman-teman sekelas mulai tereksitasi.
Saya meninggalkan Jakarta lebih dari 5 tahun. Tak tahu apa yang terjadi kemudian. Tapi sewaktu saya pulang, saya rasa rumah itu sudah menjadi seperti sekarang –walaupun belum dicet orenj ngejreng ngedombreng.
Sampai saat penghujung tahun, Lexy mengajak Julz dan saya menghadiri acara di sana.
Saya pun mulai mengenal Rara yang ramah dan baik hati (ehm); Nina yang cantik yang selalu saya tuduh memiliki nama asli Siti Zubaidah; Kamel yang lucu
dan Mariana yang cuek.
Jurnal-jurnal itu pun berpindah dari tangan Rara ke saya saat tandangan kesana.
***
Wajah Ibu berbinar-binar saat dia menyambut saya pulang kantor. Katanya, dia baru saja membaca puisi di satu jurnal dari rumah depan. Saat selesai, kakak perempuan saya bertepuk tangan. Ibu saya tersipu malu.
Saya tertawa.
Wajahnya sama seperti saat dia melihat Sousan dan Cornelia di TV lokal dan berbisik, ‘mereka kan di film itu jadi…,’ …suaranya pelan, seperti takut kalau terdengar orang. Tapi saya menangkap sebuah keriaan, seperti menikmati guilty pleasure, yang dipercayakannya kepada saya.
Ia lalu mengendap-ngendap ke kamar saya sambil membawa jurnal rumah depan.
Raut mukanya sumringah. ‘Kok kamu tahu sih, yang dimauin Mamah?’ kata dia. Walaupun setelah itu dia berpikir keras. Dahinya berkerut. Lalu dari mulutnya, meracau pendapat tentang feminisme dan nasihat untuk tidak salah jalan atau kebablasan.
Ia sepertinya mulai ingat niat awalnya, membaca puisi.
Lalu suara pelan guilty pleasure yang dipercayakannya ke saya pun terdengar,
‘Wanita
Kami bukan lagi
bunga pajangan
yang layu dalam jambangan.
Cantik dalam menurut
indah dalam menyerah
molek tidak menentang
ke neraka mesti mengikut
ke sorga hanya menumpang.
Kami bukan juga
bunga tercampak
dalam hidup terinjak-injak.
Penjual keringat murah
buruh separuh harga
tiada perlindungan
tiada persamaan
sarat dimuati beban
Kami telah berseru
dari balik dinding pingitan
dari dendam pemaduan
dari perdagangan di lorong malam
dari kesumat kawin paksaan:
“Kami manusia” ‘
Sepertinya, saya sudah mengkader Ibu saya…
Bisa ngomong sampe bego
“Eh, gue mau nelpon ke Indonesia nih. Ntar sebelum balik, gue mau ngisi pulsa cingular dulu ya”
“Ih disini ada tau prepaid telephone card. Cuma 5 dolar lo udah bisa nyambung ke Indonesia. Lama banget, bisa ngomong sampe bego”
“Oh ya?”
“Iya, kartunya dijual di groceries. Nanti kalo lewat, kita mampir dulu aja”
Siska, teman saya yang sedang kuliah di San Francisco pun mengajak saya untuk mampir di sebuah grocery store alias toko kelontong di 24th Street, Mission. Beberapa merk kartu telepon pra-bayar saya coba, dan saya cukup puas dengan kartu telepon Asia Direct seharga 5 USD yang bisa digunakan untuk menelpon ke Indonesia. Kartu ini dapat digunakan selama 333 menit untuk telepon rumah (landline) atau setengahnya untuk telepon seluler.
Berkomunikasi antar benua di kota besar seperti San Francisco memang tidak sulit. Yang paling mudah tentunya adalah melalui internet, karena tak lama lagi San Francisco berencana untuk menjadi kota nirkabel (wireless city) seperti Seattle. Hal ini memungkinkan warga kotanya untuk mengakses layanan internet secara gratis. Walaupun rencana ini masih dalam tahap realisasi, tapi sudah banyak hotspot yang dapat digunakan di wilayah perumahan dan tempat umum. Tender penyedia jaringan nirkabel San Francisco pada tahun 2006 dimenangkan oleh Google, raksasa internet yang bermarkas di Googleplex, Mountain View (sekitar 90 menit naik kereta dari pusat kota San Francisco) bersama dengan Earthlink. Hal ini tentu tidak lepas dari kemauan politik pemerintah kota untuk memberikan akses internet yang terjangkau bagi warganya. Seperti yang ditulis The Register, Walikota San Francisco, Gavin Newsom menuturkan Wi-Fi sebagai ‘a basic human right’ - sort of like gay marriage, but for nerds.
Di Indonesia, ada Indonesian Wi-Fi Consortium yang bertujuan untuk mendorong perkembangan dan pemanfaatan teknologi Internet nirkabel. Salah satu upaya yang dilakukan konsorsium ini adalah membangun dan mempromosikan jaringan nirkabel publik di Indonesia.
Tapi, tentunya, kemudahan akses internet ini tidak datang begitu saja. Pajak yang harus ditanggung oleh warga kota tentu saja tinggi. Saat ini saja San Francisco tercatat sebagai salah satu kota termahal di Amerika Serikat. Internet boom di Silicon Valley awal tahun 2000an membuat harga tanah dan biaya hidup di San Francisco Bay Area meningkat. Hal ini menggandakan jumlah tunawisma di San Francisco.
Penyediaan layanan nirkabel yang dapat diakses gratis oleh publik pastinya juga menimbulkan keberatan dari perusahaan penyedia jasa internet lain. Kalau di Indonesia, provider seperti CBN, radnet atau Telkom mungkin akan keberatan dengan usulan untuk membuat Jakarta sebagai kota nirkabel. Yang pasti, saat ini saya bisa leluasa menghubungi Indonesia melalui e-mail, YM, skype dan ngomong sampai bego :D
Hey…
My blog is featured on Maverick’s blog this week.
Thank you, I appreciate that (although… ugh.. yang tahu tampang cowok gue jadi tambah banyak doong… :p).
However since it was mentioned there, I want to note that I’m no longer working for 68H (ah yes, perhaps the link titled “Kerjaan” still contains Asia Calling’s url).
I’m now a full time student at American Studies, Universitas Indonesia and starting next month, I will conduct my research in Berkeley about radio in US.
Anyhow, I’m still 68H’s crew by heart
From all of the companies I have worked for, 68H was the place where I had great opportunity to learn and grow. If Citra was granted study scholarship by foreign govt, I might say that 68H is the main sponsor of my further study (not directly though, but from the salary I obtained).
I’m still listening to Radio Utan Kayu (68H’s Jakarta station); not necessarily to make me informed, but mostly to hear my friends voices in it
Friday, March 23, 2007
Click Of The Week: Stania’s Blog: This is not my life story
We’re already know that radio journalism is quite differ from print media journalism. That’s including the person behind it. But when it comes to blogging, it’s hard to differentiate between those two.
Take a look for this blog for an instance. In a glance, maybe you would think that she is a journalist for print media, by the way she writes. But actually, she’s a radio journalist for Kantor Berita Radio 68-H. I would say that her writings or posting are somewhat intellectual yet playful. She can really underline or stressed out her point of view yet expressed carefully and successfully ; that it doesn’t sound offending. Stania seems to always want to make sure whoever gets to read her blog can easily grasp the real message she wants to deliver. Something that all print media journalist are trying to do everyday, aren’t they?
As she describe on her blog’s title, the blog is not about her life story; it’s HER story. So mainly, her posting are based on what she experiences, feels and sees which she turns into stories. Errrr maybe Stania itself can explain it more clearly…
Her writings are very expressive that even halfway reading her postings, we can tell how she is not afraid to speak her mind. That’s part of the reason why we chose her blog to be the click of the week for this week. An addition to that, this is the first radio journalist’s blog selected by Maverick.
Why don’t you take look at her posting: Tentang Remeh Temeh dan Omong Kosong and tell us what you think?
Congratulation Stania!
My Minang boy
He was born there.
Descendant of a prominent Minang writer.
Lived his childhood until graduated high school in the capital of West Sumatra.
When I met him, there were already many tags attached.
“He was the school legend because he never studied yet he always got the highest grade,” a friend whispered;
“He could enter the most prestigious department in this institute, but he chooses the one he likes instead,” someone remarked;
“His national test was among the top in the country,” others testified
“Why do you choose to be a writer instead of a scientist? With your GPA, you can live well like your friends abroad,” I once asked,
He replied, “Science is always developing. If I work as a scientist, by the time I get old, my knowledge will be out of date. But if I’m a writer, the older I get, more life experience I obtain,”
I never ask of his life choices again since.
He loves Exupery’s Little Prince so much, and I think he is the Little Prince in the real life.
"Good morning," said the little prince. "That is a queer hat you are wearing."
"It is a hat for salutes," the conceited man replied. "It is to raise in salute when people acclaim me. Unfortunately, nobody at all ever passes this way."
"Yes?" said the little prince, who did not understand what the conceited man was talking about.
"Clap your hands, one against the other," the conceited man now directed him.The little prince clapped his hands. The conceited man raised his hat in a modest salute.
"This is more entertaining than the visit to the king," the little prince said to himself. And he began again to clap his hands, one against the other. The conceited man again raised his hat in salute.After five minutes of this exercise the little prince grew tired of the game’s monotony.
"And what should one do to make the hat come down?" he asked.
But the conceited man did not hear him.
Conceited people never hear anything but praise."Do you really admire me very much?" he demanded of the little prince.
"What does that mean– ‘admire’?"
"To admire means that you regard me as the handsomest, the best-dressed, the richest, and the most intelligent man on this planet."
"But you are the only man on your planet!"
"Do me this kindness. Admire me just the same."
"I admire you," said the little prince, shrugging his shoulders slightly,
"but what is there in that to interest you so much?"And the little prince went away.
"The grown-ups are certainly very odd," he said to himself, as he continued on his journey.
He is not an ordinary Minang boy.
Not those who want to astound people with loads of possessions
Dimana-mana saya jumpai orang Minang perantau dengan stereotip yang sama. Betapapun kere-nya seorang lelaki Minang di rantau, ia senantiasa berusaha tampil keren.
Kalau perlu arlojinya disepuh emas, meski ia hanya seorang pelayan rumah makan atau pedagang kaki lima. Yang paling khas adalah ketrampilannya menghota atau bercerita, lebih-lebih terhadap orang kampungnya yang baru datang seperti saya. Isi ceritanya 90 persen berisi tentang kehebatan dan keberhasilannya hidup di rantau, meski yang sebenarnya terjadi sebaliknya.
Gaya “Si Padang”, begitulah orang luar Minang memanggilnya, rata-rata berperangai sama, mulai dari yang paling kere sampai konglomerat, tetap tampil keren. Semua itu mencerminkan sikap hidup hemat yang dalam bahasa lainnya pelit, “galir” yang dalam bahasa lainnya licik dan materialistis. Semua itu terungkap dalam penelitian untuk disertasi Soewarsih Warnaen (1981) tentang stereotip orang Minang di rantau yang sempat menghebohkan pemuka-pemuka masyarakat Minang yang merasa kebakaran jenggot.
My boy doesn’t have much money in his pockets, nor wants to impress anyone of having one,
His wealth lies on his vast knowledge; richness that can not be taken by power or financial crisis.
He is part of my heart I’ve been looking for all of these years
My best companion ever.
Never thought he has natural talent as a gossip partner and bitchy-talk mate
I was so happy to stroll around the city with him
So bloodily happy until I uttered a word he frightened the most
He gasped and got angry. He took a thousand steps walk.
I never saw him since.
I guess it was frightening indeed.
He believed that he would never want to return. But on this last morning all these familiar tasks seemed very precious to him. And when he watered the flower for the last time, and prepared to place her under the shelter of her glass globe, he realized that he was very close to tears.
"Goodbye," he said to the flower.
But she made no answer.
"Goodbye," he said again.
The flower coughed. But it was not because she had a cold.
"I have been silly," she said to him, at last. "I ask your forgiveness. Try to be happy…"
He was surprised by this absence of reproaches. He stood there all bewildered, the glass globe held arrested in mid-air. He did not understand this quiet sweetness.
"Of course I love you," the flower said to him. "It is my fault that you have not known it all the while. That is of no importance. But you– you have been just as foolish as I. Try to be happy… let the glass globe be. I don’t want it any more."
"But the wind–"
"My cold is not so bad as all that… the cool night air will do me good. I am a flower."
"But the animals–"
"Well, I must endure the presence of two or three caterpillars if I wish to become acquainted with the butterflies. It seems that they are very beautiful. And if not the butterflies– and the caterpillars– who will call upon me? You will be far away… as for the large animals– I am not at all afraid of any of them. I have my claws."
And, naïvely, she showed her four thorns. Then she added:
"Don’t linger like this. You have decided to go away. Now go!"
For she did not want him to see her crying. She was such a proud flower…
I always know that he is the real Little Prince
I just wish that I was the rose in his planet
Because he is not an ordinary boy
He is my Minang boy
*The English quotes were taken from “The Little Prince” by Anthoine de Saint-Exupery; The Indonesian quotes were taken from Harris Effendi Thahar short stories collection, “Si Padang”; the pictures were taken from “The Little Prince” e-book.
Tentang bingung
Feby menuliskan opininya tentang penulis yang bingung dan suka membuat bingung. Tahun lalu, saya juga menulis hal yang sama disini. Karena edisi online Koran TEMPO tidak bisa diakses bebas, saya tempelkan tulisannya Feby disini agar tidak ada yang bingung (!). Enjoy!
BINGUNG
Suplemen Koran TEMPO
Minggu, 25 Februari 2007
Suatu hari seorang teman berkata, ia menyukai novel seorang penulis perempuan, sebut saja bernama R. R adalah salah seorang penulis berlatarbelakang akademis yang kental dengan novel-novel yang kerap menjadi best seller.
“Kenapa?” tanya saya.
“Iya, saya suka karyanya. Gaya bahasanya memang membingungkan, tapi itulah ciri khasnya,” jawab teman tadi lugas.
Sekarang, giliran saya yang jadi bingung. Saya baru tahu bahwa ‘membingungkan’ kini masuk daftar perbendaharaan gaya bahasa kekinian kita. Yang lebih membikin bingung, gaya itu bisa dianggap sebagai ciri khas dan malah disukai pembaca.
Karena penasaran, saya bertanya pada seorang rekan editor yang pernah beberapa kali mengedit buku dari penulis yang sama. Ketika sebuah buku sudah terbit tentu ada peranan editor yang tak bisa dinafikan. Editor bisa dikategorikan pembaca pertama yang pastinya sudah mendeteksi kalau-kalau ada ‘keanehan’ di dalam sebuah naskah. Jawaban rekan editor itu ternyata mengejutkan. “Gue juga bingung bacanya. Nggak ngerti! Pokoknya tugas gue cuma ngedit semampu yang gue bisa.”
Lho? Bagaimana bisa begitu?
Naskah-naskah yang membingungkan itu tak hanya milik penulis di atas. Mereka beredar di sekitar kita. Kita bisa menemukannya di mana saja, toko buku, majalah, koran, ataupun milis. Diksi yang dipilih rumit, meski sebetulnya masih ada pilihan kata yang lebih sederhana. Seolah tingkat kesulitan kata yang dipilih mencerminkan kecemerlangan sebuah gagasan. Padahal penulis bisa memilih diksi yang bagus tanpa harus membuat bingung pembaca.
Namun dari kasus di atas, saya melihat mata rantai bagi ‘kebingungan’ ini justru sudah tercipta. Ada penulis dengan gaya bahasa membingungkan, editor yang ikut bingung, penerbit yang tetap menerbitkan karya membingungkan, dan pembaca yang senang dibuat bingung. Klop kan?
Tapi saya masih bingung.
Dalil yang pernah saya peroleh sebagai mantan mahasiswa komunikasi menyebutkan, komunikasi adalah persoalan pertukaran makna, bukan semata pertukaran pesan. Kita sebagai komunikator dianggap gagal total apabila komunikan kita tak memahami inti gagasan yang hendak kita sampaikan. Kalau sudah tak paham, boro-boro bisa suka. Apa iya doktrin komunikasi yang saya pegang teguh itu sudah berubah? Jangan-jangan prinsip yang berlaku sekarang, kalau kau tidak bisa meyakinkan pembacamu, buatlah mereka bingung!
Dalam suatu kesempatan kolumnis Mohamad Sobary pernah berujar mengenai cara menulis, ”Ra sah ndakik-ndakik (Tak usah yang aneh-aneh). Banyak dosen yang kalau menulis mbulet menggunakan istilah aneh-aneh. Seolah-olah kalau tidak menyukarkan orang, khawatir tak dianggap sebagai dosen yang pinter,” sindirnya.
Menurut pendapat dia, untuk menjadi penulis bagus, tak perlu bergaya dengan istilah asing yang terlampau mengharu biru tulisan. Bisa-bisa, ujar Sobary, orang malah menjadi pusing jika membaca tulisan yang disesaki istilah-istilah yang tak familiar di mata pembaca.
Yayan Sopyan, penulis dan pengasuh sebuah sekolah menulis, menggelari tulisan seperti itu sebagai sastra kamus. Maksud dia, sastra yang untuk membacanya memaksa orang membuka kamus lantaran penuh istilah ajaib dan sulit. Ia menangkap kesan kuat bahwa kebanyakan naskah yang semacam itu ditulis dengan semangat menemukan dan merangkai kata-kata yang tidak lazim sebagai bagian terpenting dari kosmetika karya tulis.
Masalahnya, saya rasa kesalahan tidak sepenuhnya bisa kita hujamkan pada penulis yang suka ndakik-ndakik itu. Mereka bisa bilang, wong saya bikin tulisan seperti itu ada media massa yang mau muat. Sudah itu laku dijual kepada penerbit. Memangnya penerbit atau redaktur media massa bodoh ? Baik penulis, redaktur, dan penerbit pasti akan berkata: akhirnya semua kami kembalikan kepada pembaca. Kalau karya yang membingungkan bisa best seller, wajar saja jika penerbit tetap menerbitkannya. Meskipun hanya untuk membacanya saja editornya sampai kelimpungan.
Kita semua sebagai pembaca bisa dikatakan bertanggung jawab turut melestarikan penulis yang bergaya bahasa membingungkan. Yang lebih berbahaya jika kita menciptakan penulis-penulis baru dengan gaya yang sama, sebab mereka belajar dari penulis terdahulu yang terkenal justru karena berciri khas membingungkan.
Menurut saya, ini bukan semata pada persoalan kurang kritisnya pembaca dalam memahami teks. Kemungkinan besar inti persoalan terletak pada perasaan rendah diri yang pernah menghinggapi setiap kita dengan derajat yang bervariasi.
Jujur saja. Kita seringkali silau dengan atribut-atribut yang dikenakan penulis. Jika si penulis misalnya bergelar doktor, psikolog atau dokter belum apa-apa kita sudah minder.
Buku atau teks saat ini tak lagi sarana komunikasi yang telanjang, yang menghadirkan dirinya secara sederhana. Ia bukan lagi semata wadah untuk menyampaikan makna, tapi menghantarkan citra.
Ketika seorang penulis menghampiri kita dengan segenap atribut — gelar, jabatan, peran sosial — yang dimilikinya, persepsi di kepala kita terbentuk. Ia hebat, maka apa yang disampaikannya pastilah hebat pula. Apalagi jika bukunya memperoleh endorsement dari orang-orang terkenal. Makin yakinlah kita akan kehebatan sang penulis.
Bahkan ketika tulisannya penuh dengan kosa kata yang saya tidak mengerti, kita malah berpikir: itulah tanda bahwa dia pintar. Kalau saya tidak paham, mungkin saya yang bodoh. Lalu karena saya ingin dikategorikan pintar, saya pun merasa harus menyukai tulisan itu.
Biasanya hal serupa itu mudah menular. Jika tokoh-tokoh publik saja sudah bisa memberikan pujian setinggi langit melalui endorsement yang diberikannya, masa’ iya kita berpikiran sebaliknya? Jika banyak orang menilai karya itu bagus, jarang-jarang ada yang berdiri dan menyatakan pendapat yang berlawanan. Kita cemas menjadi berbeda. Kita meragukan diri kita.
Rasanya, sebagai pembaca, kita perlu lebih percaya diri. Kalau setelah membaca sebuah teks kita tak mampu menyimpulkan isinya dalam bahasa kita sendiri, jangan mendadak sontak menyalahkan pikiran kita. Bisa jadi itu salah satu indikator gagalnya penulis menyampaikan pokok pikirannya. Pada saat kita mengatakan kita menyukai karya seorang penulis, pastikan bahwa itu kita lakukan karena kita memahaminya, bukan karena itu membingungkan kita.
Ujian bagi seorang penulis adalah ketika ia bisa secara mahir menyampaikan ide — serumit apapun itu — ke dalam bahasa yang mudah dimengerti sebanyak mungkin orang. Bukan sebaliknya, membuat bahasa yang sulit dimengerti agar gagasannya dianggap luar biasa.
Tulisan masihlah bertujuan menyampaikan makna, bukan semata citra. Inilah prinsip komunikasi yang sederhana. Dan sejati.
Feby Indirani, pembaca yang tak ingin dibuat bingung
The Idols are in!
And I heart Sanjaya Malakar
I think he’s cute, nice, low profile and honest.
I just remember when he walked into the audition room and Randy asked who’s a better singer: his sister, Shyamali (who performed earlier) or him? -Sanjaya said that he thinks she’s better than him. After he sang, Simon praised him by saying that Shyamali has the stage presence while Sanjaya has better voice. A lot better one.
I also like when he hugged his sister who didn’t make it to the Top24. What a lovely brother! I heart him!
But I think I know why I like him so much.
Today, when my family watched Sanjaya performed on the first American Idol elimination round, my mom suddenly uttered the same words she always says about Gombang: “Kurang makan”
I just realize that he looks like my boyfriend: skinny, gondrong and shy
I wish he can make it to the final rounds. I just saw his performance in Top24 and he didn’t give a blazing performance. Hope he will survive the eliminations and gives a knockout performance in the near future.
Go Sanjaya*! Kamu pasti berjaya!
*sanjaya is indian word for victory
Tentang Remeh-Temeh dan Omong Kosong
Amin Sweeney pernah mengajar selama satu semester di Universiti Sains Malaysia pada tahun 1980. Salah satu bahan kuliahnya adalah penerapan teori Parry-Lord pada pantun dan syair. Teori itu merupakan hasil penelitian Milman Parry dan Albert Lord di Yugoslavia pada tahun 1930-an mengenai kaidah penciptaan lisan. Penelitian berjudul “Teori komposisi formulaik-lisan Parry-Lord” itu kemudian diterapkan peneliti lain kepada komposisi lisan di seluruh pelosok dunia.
Suatu minggu, Amin membawa rombongan mahasiswanya menaiki bus universitas ke negara bagian Perlis untuk menonton pertunjukan. Salah satu mahasiswanya membawa biola dan mulai menggesek. Tak lama kemudian beberapa yang lain sudah asyik bernyanyi dan berbalas pantun secara lisan, mengenai kegiatan nanti setelah di Perlis. Amin kemudian memberitahu mereka bahwa apa yang mereka lakukan adalah sasaran penelitian Parry dan Lord. Para mahasiswanya agak kaget dan geli. Mereka tertawa dan menanyakan, mengapa kedua sarjana itu menghabiskan waktunya meneliti yang remeh-temeh!
Sains dan ilmu pengetahuan berkembang dari ‘yang remeh-temeh’. Apel jatuh menginspirasi Isaac Newton melahirkan teori gravitasi; kapang membuat Alexander Fleming menemukan penicillin; perbedaan paruh burung mendorong Charles Darwin menulis teori evolusi; kulit pisang membawa Ibu Dea meraih L’Oreal Fellowships for Women in Science tahun lalu, dan seterusnya.
Dalam Matematika, setiap teori dilandaskan pada beberapa aksioma. Aksioma adalah sebuah pernyataan yang kebenarannya diterima secara umum. Biasanya pernyataan dalam aksioma selintas sepele, contohnya seperti aksioma pertama Euclid: “Sebuah garis lurus dapat dibentuk dengan menghubungkan dua titik”. Padahal dari aksioma Euclid kemudian dapat diturunkan pemikiran yang lebih kompleks, misalnya teorema phytagoras yang digunakan secara luas dalam ilmu bangunan.
Tapi bagaimana kita membedakan pemikiran rumit yang brilian dengan yang omong kosong? Kisah klasik Alan Sokal membuktikan, omong kosong pun dapat dianggap jenius.
Sokal, fisikawan dari New York University menulis artikel mengenai fisika postmodern berjudul “Transgressing the Boundaries: Toward a Transformative Hermeneutics of Quantum Gravity”. Tulisan itu dikirimkannya ke jurnal posmodernisme bergengsi, Social Text edisi musim semi/panas tahun 1996 dan dimuat. Tak lama kemudian, Sokal mengakui bahwa tulisan yang dikirimkannya ke jurnal itu hanya omong kosong yang bertujuan untuk menguji standard intelektual akademis yang sudah ada. Ia penasaran, apakah sebuah jurnal pengetahuan bergengsi akan memuat sebuah omong kosong jika: (1) terdengar bagus dan (2) sesuai dengan ideologi editor jurnal tersebut? Ternyata, ya. Dalam review-nya mengenai Sokal, Gary Kamiya menuliskan sejumlah kata kunci untuk dianggap brilian, antara lain: ’hermenetika’, ‘transgresif’, ‘Lacanian’ dan ‘hegemoni’.
Intinya? Yang remeh-temeh belum tentu kosong dan yang rumit bisa saja omong kosong.
The Magic Book
My father bought my mom a talking book. It’s a laptop-like device with speaker and sensor pen. The book serves as a language learning tool and is available in Arabic, Mandarin and English. The one we bought is a talking book to learn how to read Qur’an. My mom who greeted us when we came back from the store couldn’t hide her excitement.
Both my parents and I were raised on secular families and we don’t learn religious practices intensively. My mom sometimes calls God as Gusti Allah, a mixture of Javanese and Islamic belief. But she always tries to fulfill her obligations as a Moslem. Aside from that, she is a true believer of Jayabaya prophecy, especially about the coming of ‘Satria Piningit’ and the ‘Ratu Adil’ ruling. She always relates current occurrences with the prophecy to support her faith on the present Ratu Adil.
Other thing that she trusts deeply is her dreams. She claims to be able to see future through it. One day, she told me that in her dream, she found a dirty baby. She interpreted it as material fortune. It could be money or unexpected wealth. Several days after she explained the dream, someone bought my father’s chemical plant that was sold for quite a long time. It’s a very surprising coincidence, but surely the one we’ve been waiting for. My father’s company needed fast money to pay loans to the bank that always chased us to finish the payment.
Long before that, she told me one of her premonition dream. On that dream, she stood besides a beautiful garden which was guarded by an angel. When she wanted to enter it, the angel held her and pointed to the sky. There, an Arabic word written by a cloud hanging up in the firmament.
“READ!” the angel ordered;
My mom was shaking, “O, Jibril… I can’t read that. I don’t know how to read Qur’an,”
The angel then told my mom to go and only returns when she is able to read it.
She remembers it. I remember it. And we both understand the meaning of that dream. So now, I know how happy she is when she opens the book and hears the machine’s voice greets her, “Assalamualaikum, Ad Darsul Awwal…”



"It is a hat for salutes," the conceited man replied. "It is to raise in salute when people acclaim me. Unfortunately, nobody at all ever passes this way."
"Well, I must endure the presence of two or three caterpillars if I wish to become acquainted with the butterflies. It seems that they are very beautiful. And if not the butterflies– and the caterpillars– who will call upon me? You will be far away… as for the large animals– I am not at all afraid of any of them. I have my claws."