header image
 

Penulis muda

Anna Karenina dapat tugas. Ia harus mewawancarai seorang penulis muda. Perempuan cantik yang insinyur. Baru menulis tiga novel yang mencatat oplah segede bukit, dengan rekomendasi setinggi langit. Sebelum mewawancara, Anna membeli ketiga novel dia. Tidak ada satu pun yang dapat dimengerti. Anna heran, mengapa orang ternama di belakang sampulnya memberikan rekomendasi setinggi langit. Mulai dari politikus, dekan fakultas, penyanyi kondang, ekonom, anggota legislatif, sutradara terkenal, redaktur majalah populer dan sebangsanya.
Anna pusing membaca cerita yang dituturkan. Penulis Muda memakai banyak istilah teknis, medis dan akademis yang berkesan tempelan. Dia mencampurkan satu kata dengan kata lain sampai tercipta satu kalimat dengan seribu anak kalimat. Menaruh frasa di luar konteks, dengan alasan mendekonstruksi makna. Mungkin penulisnya ingin mengakali pembaca, agar kebodohannya tidak sampai terbuka.
‘If you can’t convince them, confuse them’, adagium utama bagi mereka yang tidak ingin kehilangan muka. Penulis Muda mungkin merasa, jika pembaca kebetulan bukan ahli sastra atau pakar algoritma, ia dapat mengklaim: ‘maaf, saya mumpuni dalam sastra dan jenius di algoritma,’ sambil terus meracau dengan kalimat tak terstruktur serta berpura-pura sok jago dalam bersastra dan beralgoritma.
Penulis Muda sepertinya tidak pernah belajar, bahwa prinsip utama menulis yang dicamkan guru bahasa adalah KISS: Keep It Simple, Stupid!
Bukan merangkai kata yang tak indah dan tak bermakna hanya untuk mencari muka.  Mungkin dia memang stupid!

****

Hari wawancara tiba.
Anna bergegas ke Pondok Kelapa, rumah Penulis Muda.
Anna memulai wawancara. Penulis Muda mulai ber-bla-bla-bla…
“Novel Anda diimpor ke luar negeri?”
“Ih… iya, tahu aja. Dibahas loooh, sama Profesor di sana, untuk dijadikan contoh karya penulis muda Indonesia….. bla-bla-bla”
‘Hmmmm… Pasti maksud Profesornya, sebagai contoh karya paling buruk…’
“Sebagai seseorang yang berlatar belakang sains, apakah Anda pernah mendengar Occam’s Razor?”
“Yah, ehm… Dikit… itu kan… Piso… buat motong apa ya… kayaknya tante saya sih pernah beli waktu ke Paris …..”
“Occam’s Razor adalah konsep kesederhanaan yang digunakan dalam sains dimana jika terdapat dua pernyataan yang bisa menjelaskan suatu fenomena, maka yang diambil adalah penjelasan yang paling singkat dan sederhana. Yang saya ingin tanyakan, tulisan Anda tidak mencerminkan konsep ini, padahal dalam berbagai media, Anda selalu menekankan diri Anda sebagai seorang ilmuwan yang penulis. Anda malah cenderung menjelaskan suatu hal dalam bahasa yang sulit dicerna dan susah dimengerti. Mungkin untuk novel, Anda bebas melakukannya. Tapi kecenderungan ini saya temukan paling banyak pada esai-esai Anda di kolom majalah berita, yang ditujukan justru untuk khalayak ramai. Bukankah dengan memakai bahasa yang lebih ringkas dan sederhana, lebih banyak informasi yang dapat Anda sampaikan kepada pembaca? Komentar Anda?”
Penulis Muda terdiam. Dahinya berkerut, tanda berpikir keras.
Anna menghela napas.

***

Anna pulang menjelang senja.
Penulis muda berparas cantik sudah selesai diwawancara.
Barthes ternyata salah saat ia berkata bahwa penulis mati dalam karyanya, The Death of the Author. Di sini, justru penulis yang dijual, bukan karyanya.
Citra tak lebih dari sebuah komoditas yang selalu mengikuti selera pasar. Terutama saat khalayak yang sudah dikondisikan dengan mimpi-mimpi dan budaya instan, menginginkan suatu produk unggul yang mencakup kecantikan, kenyamanan, intelegensia, moralitas, spiritualitas… sebut saja semua yang diinginkan. Kalau ada yang sanggup mewujudkannya, maka dijamin akan laku keras seperti pisang goreng. Siapa yang mampu memenuhi harapan, akan dipuja bak bintang sinema, meskipun segalanya segera berubah menjadi simulakra.
Anna tidak ingin mengubah dunia.
Ia hanya berharap, kalau Penulis Muda adalah Raja yang muncul di singgasana tanpa memakai busana, dimana tidak ada orang yang berani berkata-kata, hanya memuja dan menuruti perintahnya sambil terus mengeluarkan pujian berbunga; dirinya bisa menjadi bocah desa yang berani maju ke depan Raja sambil berkata :’Kamu tidak berbusana,’ dan melihat pipi Penulis Muda memerah seperti pantat monyet makaka.   

~ by stania on April 18, 2006.

8 Responses to “Penulis muda”

  1. -=Penulis Muda sepertinya tidak pernah belajar, bahwa prinsip utama menulis yang dicamkan guru bahasa adalah KISS: Keep It Simple, Stupid!
    Bukan merangkai kata yang tak indah dan tak bermakna hanya untuk mencari muka. Mungkin dia memang stupid!=-

    Stania, ini pelajaran yang sangat penting bagi penulis. Bukan hanya bagi penulis muda :)

  2. Keep is simple, stupid! Huahuahua… sialan, jangan-jangan aku juga kena damprat guru bahasaku kalau dia membaca tulisanku sekarang. Ndak apa-apa juga sih berumit-rumit dalam tulisan, apalagi jika pemula. Tentu lebih baik menulis dengan sederhana. Tapi sepanjang seorang penulis pemula terus belajar menulis dan membaca (untuk memerkaya wacana, kosa kata dan memelajari ragam gaya tulisan), apa yang awalnya rumit-rumit itu akan makin sederhana kok. Syaratnya sederhana, tapi kadang sukar: jangan pernah mau stuck dengan satu style berbahasa, apalagi jika karir kepenulisannya baru setahun dua tahun. scipta manent verba vollan: yang tertulis akan abadi, yang terucap akan berlalu bersama angin.

  3. hehehe, lucu stan, telat dong gue nulisnya di RB ya? tapi nggak apa-apa, saling menguatkan, hehehe. Btw, penulis muda itu tetap melaju pesat lho.. Dia belum tahu bahwa dia tak berbusana..hhehehe

  4. menarik, sebuah kenyataan yang ironis, apa lagi banyak penulis kita yang tercerabut dari realitas keseharinaya..
    aku jadi ingin diskusi dengan kamu lebih banyak…
    salam..
    jakfar_fauvis@yahoo.com

  5. sangat menarik, kalau saya pikir tidak juga tu… sekarang para penulis muda juga dalam tahap proses he he salam kenal aj….

  6. Buy amoxicillin online cheap amoxicillin….

    Buy amoxicillin without prescription….

  7. Buy amoxicillin online cheap amoxicillin….

    Buy amoxicillin without prescription….

  8. Buy amoxicillin online cheap amoxicillin….

    Buy amoxicillin without prescription….

Leave a Reply