Jakarta International Film Festival (JiFFest) digelar lagi untuk yang kedelapan kalinya. Dan, saya termasuk yang beruntung karena dapat berpartisipasi dan menggali ilmu tentang film dokumenter lewat workshop yang diselenggarakannya tahun ini. JiFFest Script Development Workshop merupakan kompetisi terhadap sejumlah skrip film yang telah diseleksi sebelumnya oleh panitia. Pesertanya dibagi menjadi 4 kategori, yaitu Short Documentary, Long Documentary, Short Fiction dan Long Fiction (disebut juga dengan Feature Film). Skrip yang diterima panitia tahun ini berjumlah total sekitar 400an proposal; Untuk kategori Short Documentary saja, jumlah aplikasi yang masuk mencapai 100 lebih. Setiap kategori mendapat ‘jatah’ 10 peserta yang akan bersaing memperebutkan dana produksi (dan pasca-produksi) sebesar 25 sampai 30 juta rupiah. Pada hari-H, hanya 8 orang yang mengikuti kelas Short Documentary, 6 orang di kelas Short Fiction, 9 orang untuk Long Fiction dan 1 peserta Long Documentary.
Peserta di kelas Short Documentary beragam, mulai dari pekerja film, reporter TV sampai pengusaha nasi
Yang paling pertama saya tahu tentunya Yuli Andari Merdikaningtyas, sutradara film ‘Joki Kecil’ yang menang Eagle Awards (EA) tahun lalu. Selain EA, film debut Andari dengan Anton Susilo ini juga mendapatkan penghargaan film dokumenter terbaik dalam SlingShort Film Festival 2006 dan Festival Film Pendek KONFIDEN, sutradara terbaik dalam Teheran International Short Film Festival, serta memperoleh runner-up film documenter pendek terbaik di Asian Television Awards 2006. Wuiiihh…. Skrip yang dimasukkan Andari di JiFFest berjudul ‘Bulan Sabit di tengah laut’ (Crescent Moon over the Sea). Skrip ini bercerita tentang Pulau Bungin, tempat tinggal suku Bajo di Sumbawa, dimana setiap tanahnya dibangun dari karang yang dikumpulkan oleh penduduknya. Nama Bungin sendiri berasal dari
kata ‘bubungin’ yang dalam bahasa Bajo berarti ‘gumpalan pasir di tengah laut berbentuk bulan sabit’.
Perempuan peserta lainnya adalah Ardina, reporter TV7 (waktu workshop belum berubah nama menjadi TRANS7 :p) yang memasukkan skrip dengan judul ‘Ini Pilihanku’. Skripnya bercerita tentang pemilihan kepala daerah (pilkada) di Nangroe Aceh Darussalam. Dina ingin merekam perjalanan bekas tentara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang akan memilih gubernur provinsi itu. Sayangnya, pilkada Aceh sendiri berlangsung pada tanggal 11 Desember 2006, hari ke-3 pelaksanaan workshop JiFFest, sehingga skenario film ini harus diubah.
Ini peserta lain, yaitu Muhammad Ichsan yang bekerja sebagai asisten sutradara sejumlah film, diantaranya termasuk ‘GIE’ (Miles Film, 2005). Skripnya yang berjudul ‘Batang Terendam’ termasuk salah satu favorit saya. Ide dasarnya berawal dari pengalaman Ichsan sendiri yang pertama kali mengunjungi Bukittinggi pada tahun 2003. Ia melihat, meskipun dirinya memiliki darah Minang, tapi ia tidak mengerti banyak adat istiadat Minangkabau. Hal ini karena kedua orangtuanya adalah perantau yang tidak mengajarkan tradisi Minang kepada anak-anaknya karena dipercaya, itu adalah tugas mamak/pamannya, bukan orang tuanya (Kemenakan beraja ke Mamak, Mamak beraja ke Penghulu, Penghulu beraja ke Mufakat). Judul ‘Batang Terendam’ sendiri berasal dari pepatah Minang yang berbunyi ‘Membangkit Batang Terendam’, artinya menghidupkan tradisi yang sudah lama dipendam/tidak dipraktikkan. Pepatah ini mengambil perumpamaan dari batang rumah orang Minang yang harus direndam dalam lumpur dahulu supaya kuat, sebelum dapat digunakan menjadi tiang penyangga rumah.
Peserta lainnya adalah Kristianto Nugroho, peneliti di Studio Samuan Ia memasukkan proposal skrip mengenai Kustoro, pria Jawa yang melakukan poligami dan memiliki 9 istri. Ia ingin memotret kehidupan Kustoro yang terlihat harmonis dengan kesembilan istrinya, bahkan saat ini, Kustoro memiliki pacar seorang gadis muda. Apakah hal ini dilakukan karena budaya, mengingat tradisi selir sudah biasa di kalangan raja Jawa? Atau karena pemahaman agamanya? Setelah revisi, Kris mengubah judul skripnya dari ‘Kustoro born with love, passion and ego’ menjadi ‘9 ½ wives’.
Dosen dan mahasiswa juga bisa bertemu dalam workshop yang sama. Dan itu terjadi pada Andhika Prasetya serta Rai Pandudita. Mas Andhika adalah dosen Desain Komunikasi Visual (DKV) di Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Universitas Maranatha. Dalam workshop kali ini, ia menjadi peserta di kategori Short Documentary dengan proposalnya mengenai kesenian tari Lengger di Jember, Jawa Timur yang hampir punah. Sementara Rai Pandudita adalah mahasiswanya di jurusan DKV ITB angkatan 2000. Rai masuk sebagai peserta di kategori Short Fiction. Proposalnya yang berjudul ‘In the Mood for Wong Kar-Wai’ terinspirasi oleh pernyataan ‘art imitating life imitating art’.
Skrip Irwan Ahmett dan Prima mungkin yang paling abstrak, konseptual, sekaligus sederhana. Judulnya ‘Siapakah Orang Yang Paling Berbahagia di Indonesia?’ Skrip ini termotivasi dari perjalanan Iwang ke Bali. Disana ia bertemu dengan masyarakat pribumi yang sangat bahagia menjalani kehidupannya, meskipun pulau Bali sedang terpuruk karena isu bom dan terorisme. Bagi mereka, hidup adalah keyakinan untuk menjalani dan mencintai apa yang mereka percaya. Kondisi ini sangat kontrasi saat Irwan berada di Jakarta dan melihat kebahagiaan di kota besar telah dikemas sedemikian rupa. Lalu, siapa yang sebenarnya paling bahagia di negeri ini? Benarkan orang-orang yang berbahagia itulah yang membuat kita dapat tetap bertahan di tengah segala bencana?
Peserta terakhir di Short Documentary adalah Ali Usman dari Rembang, Jawa Timur. Ia mengajukan proposal proyek mengenai perjalanan musafir. Musafir adalah seseorang yang melakukan perjalanan untuk menelusuri perjalanan Wali Songo dengan berjalan kaki. Perjalanan ini dilakukan untuk melarih kesabaran, kepasrahan diri dan mencari ridho Tuhan. Para Musafir tidak diperbolehkan meminta makanan, mereka hanya bisa mengambil dari apa yang jatuh dan ada di jalan. Perjalanan mereka dapat mencapai hitungan bulan sampai tahun.
Selain peserta, setiap kelas workshop juga dihadiri oleh observer alias pengamat. Para observer ini dapat mengikuti semua kelas dan ikut berdiskusi dalam setiap pembahasan skrip. Tahun ini, observer-
nya lucu-lucu lho… *halah* Diantaranya adalah Ira Yuniarty dan Benedicta Stephanie. Ira memasukkan skrip tentang profil satpam di kompleksnya yang juga harus bekerja sebagai tukang sampah. Skrip ini bahkan sudah dibuat menjadi film pendek sederhana. Sementara Stephanie baru balik dari belajar film di Norwegia dan memasukkan skrip tentang pertentangan nilai pendeta Hindu di Bali dengan globalisasi.
Nah, untuk Short Documentary, tutornya adalah Leonard Retel Helmrich dan Ismail Fahmi Lubis (Ezther) yang beberapa kali membuat film dokumenter tentang Indonesia. Diantaranya adalah ‘The Shape of the Moon’ (Stand van de maan) yang memenangkan Grand Juri Prize di Sundance Film Festival 2005. Selain mengembangkan skrip kita di dalam kelas, kita juga mendapat kesempatan untuk belajar dari film-film yang diputar di JiFFest 2006. Diantaranya adalah premiere film pemenang workshop JiFFest tahun lalu. Peserta workshop diberi 6 tanda masuk gratis yang dapat digunakan untuk film-film yang mengenakan tarif.
Nama-nama peserta yang sudah malang melintang di dunia film juga ikutan workshop tahun ini sebagai peserta, seperti Salman Aristo, Farishad Latjuba dan Michy Gustavia yang masuk di Feature Film. Sementara di kategori Short Fiction, ada mbak Wida Djamil yang belajar film di Inggris, Ari Dina Kristawan dari Metro TV, mas Yusril yang jadi dosen di STSI Padangpanjang, serta mas Eric Bachtiar yang baru balik ke Indonesia dan berlatar belakang… IT.
Workshop dalam kelas dilakukan selama 5 hari. Metodenya adalah membahas setiap skrip dan mendapat masukan dari peserta dan observer. Tutor hanya mengarahkan dan memfokuskan isi setiap skrip. Setelah itu, kita diberikan 2 hari untuk merevisi skrip yang akan diajukan saat pitching ke depan juri pada hari penutupan JiFFest. Juri pitching untuk Short Documentary adalah Chandra Tanzil, Frank Peijnenburg (tutor untuk Short Fiction) dan Adrian Belic, sutradara film dokumenter. Tidak seperti Pitching Forum di Eagle Awards, pitching JiFFest berlangsung tertutup. Peserta diurut berdasarkan alfabet, disediakan tempat duduk dan… ditemani oleh Leonard:)
Kita masih sempat untuk menonton satu film sebelum malam penutupan JiFFest. Saya dan Andari nonton Hero’s Journey arahan sutradara Singapura, Grace Phan. Malam penutupan JiFFest dibuka dengan pengumuman pemenang workshop. Seperti yang sudah saya duga, Andari keluar sebagai pemenang di kategori Short Documentary. Risetnya (baik literatur, lokasi dan tokoh) memang sudah dilakukan dengan intensif. Di kategori Short Fiction, Eric Bachtiar keluar sebagai pemenang, sementara di Feature Film, hadiah jatuh kepada Salman Aristo dan Lucky Kuswandi. Ikutan workshop JiFFest tahun ini memang menyenangkan. Saya jadi tergoda untuk membuat film dokumenter dan ikutan kompetisi lain :D. Sampai jumpa di JiFFest 2007!
PS: Nanti, kalau sambungan internet udah baik lagi, saya upload ya, foto2nya. Males banget lambat sekali.