header image
 

Bandung, dulu & sekarang

Akhir November kemarin, saya menyempatkan diri ke Bandung. Ini adalah kunjungan saya ke kota kembang itu yang pertama sejak Desember 2005. Setiap kali ke Bandung, saya memang cuma menghadiri acara yang sudah pasti, seperti pernikahan atau workshop. Jarang jalan-jalan keliling kota seperti waktu kuliah dulu. Ternyata, wajah Bandung sudah banyak berubah. Mulai dari jalan layang (aduh Stan, kemana aja??), Cihampelas Walk (yang belum dikunjungin juga kan? :D) sampai travel dari Jakarta yang berangkat setiap jam dan dijamin tiba dalam 2 jam! Berikut catatan saya tentang Bandung yang saya temui bulan lalu:

Yang beda:

Apartemen_simpangApartemen Simpang! Yap! Di pasar Simpang Dago sekarang sedang ada pembangunan apartmen tinggi. Namanya apartemen Dago Butik. Terlihat menocolok karena tidak ada gedung setinggi itu di Simpang. Dulunya kalo gak salah ini tempat lembaga psikologi terapan. Wah, Bandung kayaknya makin mirip Jakarta aja: banyak pembangunan gedung tinggi dan jalan raya, mulai macet juga … makin panas euy!

Stadion_sabugaSabuga harus bayar! Dimana tempat paling enak untuk lari pagi setiap hari Minggu? Dulu, pilihan tempat lari bagi anak kos seperti saya adalah Gasibu dan Sabuga. Dan Sabuga tentunya menjadi pilihan pertama dong, secara saya kosnya di Kebon Bibit. Dulu lapangan ini dapat dimasuki sampai malam. Banyak juga yang menghabiskan sore disini, untuk lari keliling stadion atau latihan saksofon. Gratis! Tapi sekarang, untuk masuk, kita harus membayar tiket masuk. Stadion juga tidak dibuka setiap saat, tapi dibatasi dari pagi sampai sore saja.

Student_center_itbITB yang tambah cantik. Karena sekarang, Student Center-nya bagus banget (kalau mau lihat, bisa ditonton di film ‘Jomblo’ :p). Di jalanan tengah antara boulevard utama tidak bisa dilalui mobil lagi. Sudah ditegel dan diberi pembatas, sehingga mobil harus memutar ke depan Jurusan Sipil dan Planologi. Asyik, para pejalan kaki diprioritaskan.

Jalan_layang_paspatiJalan layang Paspati. Wah, sekarang ada jalan layang yang menghubungkan jalan Pasteur dan Surapati dengan cepat. Jalanan ini dibuka untuk umum tahun 2005 lalu. Dibawahnya dulu adalah pasar Balubur dan daerah Kebon Bibit, tempat saya kos. Pasar Balubur sudah tidak ada lagi. Di bawah jembatan layang hanya Baluburterdapat lahan kosong yang ditumbuhi rumput, kerikil dan kios tukang sol sepatu. Padahal seingat saya, dulunya disini adalah wilayah yang padat penduduk. Banyak rumah berhimpitan dibawahnya. Jadi curiga, rumah kos saya ikut tergusur gak ya?

Hweee, rumah kosku masih ada! Tapi Rumah_koskusekarang sudah berubah jadi warnet bernama rapidNet. Salah satu kamarnya dirombak jadi ruangan untuk internetan. Sementara di halamannya yang dulu tidak pernah kita urus itu (hehehe) sudah diubah jadi warung makan dengan menu bakso, indomie (makanan anak kos banget :p) dan masakan rumah. Ternyata sekarang sudah dikontrakkan ke seorang ibu yang membuka usaha warnet dan rumah makan ini, tidak untuk kos-kosan mahasiswa lagi.

Yang sama:

Furnitur_baluburSelain beberapa perubahan, ada juga yang masih sama di Bandung. Di antaranya adalah tukang furnitur di sepanjang Jalan Tamansari. Mereka menjual furnitur ‘mini’ dari bahan kayu yang ringan. Cocok untuk para mahasiswa yang memang hanya membutuhkan masa pakai dari 4 sampai 7 tahun. Harganya pun tidak mahal, disesuaikan dengan kantong mahasiswa. Setelah dibeli, bisa langsung dibawa dengan angkot ke rumah kos masing-masing :)

     Jajanan Bandung juga masih jadi daya tarik kota kembang. Mulai dari pisang molen Kartikasari, soes Merdeka, es cendol Elizabeth sampai brokus atau brownies kukus yang ngetop sekarang. Jajanan dorongan yang bisa dijumpai adalah es krim duren, siomay/batagor Bandung, lumpia atau bungkusan seperti gurilem.

Yang enak:

Kedai_eskrim Ada satu kedai es krim yang tidak sengaja saya lewati saat naik angkot dari Cipaganti ke Ganesha. Namanya yang bikin saya pengen mengunjungi tempat ini, yaitu ‘I Scream for Ice Cream’ di Jalan Hariabanga 1. Tempatnya rada tersembunyi, tapi bisa dicapai dengan mudah dari Jalan Sawunggaling dan Unisba. Semua es krim disini dibuat sendiri alias home made cooking, dan asyiknya, kita bisa mencicipi tester-nya sebelum benar-benar memesan. Dengan harga Rp. 7.500, kita sudah bisa mendapatkan satu buah scoop es krim dengan topping pilihan.

Ya gitu deh… perjalanan saya ke Bandung tahun ini. Sebenarnya sih saya sedikit gak suka kalau pembangunan Bandung ngikutin Jakarta, soalnya jadi keliatan lebih semrawut, IMHO. Saya melihat, jalan layang kok lebih mengakomodasi pemilik kendaraan bermotor pribadi daripada pejalan kaki atau pengguna transportasi umum. Mungkin ini yang namanya ‘modernisasi’.

Bukan sekejap JiFFest

Jiffest_is_here Jakarta International Film Festival (JiFFest) digelar lagi untuk yang kedelapan kalinya. Dan, saya termasuk yang beruntung karena dapat berpartisipasi dan menggali ilmu tentang film dokumenter lewat workshop yang diselenggarakannya tahun ini. JiFFest Script Development Workshop merupakan kompetisi terhadap sejumlah skrip film yang telah diseleksi sebelumnya oleh panitia. Pesertanya dibagi menjadi 4 kategori, yaitu Short Documentary, Long Documentary, Short Fiction dan Long Fiction (disebut juga dengan Feature Film). Skrip yang diterima panitia tahun ini berjumlah total sekitar 400an proposal; Untuk kategori Short Documentary saja, jumlah aplikasi yang masuk mencapai 100 lebih. Setiap kategori mendapat ‘jatah’ 10 peserta yang akan bersaing memperebutkan dana produksi (dan pasca-produksi) sebesar 25 sampai 30 juta rupiah. Pada hari-H, hanya 8 orang yang mengikuti kelas Short Documentary, 6 orang di kelas Short Fiction, 9 orang untuk Long Fiction dan 1 peserta Long Documentary.

     Peserta di kelas Short Documentary beragam, mulai dari pekerja film, reporter TV sampai pengusaha nasi :D Yang paling pertama saya tahu tentunya Yuli Andari Merdikaningtyas, sutradara film ‘Joki Kecil’ yang menang Eagle Awards (EA) tahun lalu. Selain EA, film debut Andari dengan Anton Susilo ini juga mendapatkan penghargaan film dokumenter terbaik dalam SlingShort Film Festival 2006 dan Festival Film Pendek KONFIDEN, sutradara terbaik dalam Teheran International Short Film Festival, serta memperoleh runner-up film documenter pendek terbaik di Asian Television Awards 2006. Wuiiihh…. Skrip yang dimasukkan Andari di JiFFest berjudul ‘Bulan Sabit di tengah laut’ (Crescent Moon over the Sea). Skrip ini bercerita tentang Pulau Bungin, tempat tinggal suku Bajo di Sumbawa, dimana setiap tanahnya dibangun dari karang yang dikumpulkan oleh penduduknya. Nama Bungin sendiri berasal dari Andari_ardinakata ‘bubungin’ yang dalam bahasa Bajo berarti ‘gumpalan pasir di tengah laut berbentuk bulan sabit’.

     Perempuan peserta lainnya adalah Ardina, reporter TV7 (waktu workshop belum berubah nama menjadi TRANS7 :p) yang memasukkan skrip dengan judul ‘Ini Pilihanku’. Skripnya bercerita tentang pemilihan kepala daerah (pilkada) di Nangroe Aceh Darussalam. Dina ingin merekam perjalanan bekas tentara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang akan memilih gubernur provinsi itu. Sayangnya, pilkada Aceh sendiri berlangsung pada tanggal 11 Desember 2006, hari ke-3 pelaksanaan workshop JiFFest, sehingga skenario film ini harus diubah.

Uda_ichsanIni peserta lain, yaitu Muhammad Ichsan yang bekerja sebagai asisten sutradara sejumlah film, diantaranya termasuk ‘GIE’ (Miles Film, 2005). Skripnya yang berjudul ‘Batang Terendam’ termasuk salah satu favorit saya. Ide dasarnya berawal dari pengalaman Ichsan sendiri yang pertama kali mengunjungi Bukittinggi pada tahun 2003. Ia melihat, meskipun dirinya memiliki darah Minang, tapi ia tidak mengerti banyak adat istiadat Minangkabau. Hal ini karena kedua orangtuanya adalah perantau yang tidak mengajarkan tradisi Minang kepada anak-anaknya karena dipercaya, itu adalah tugas mamak/pamannya, bukan orang tuanya (Kemenakan beraja ke Mamak, Mamak beraja ke Penghulu, Penghulu beraja ke Mufakat). Judul ‘Batang Terendam’ sendiri berasal dari pepatah Minang yang berbunyi ‘Membangkit Batang Terendam’, artinya menghidupkan tradisi yang sudah lama dipendam/tidak dipraktikkan. Pepatah ini mengambil perumpamaan dari batang rumah orang Minang yang harus direndam dalam lumpur dahulu supaya kuat, sebelum dapat digunakan menjadi tiang penyangga rumah.

Bung_kristanto_menjelaskan      Peserta lainnya adalah Kristianto Nugroho, peneliti di Studio Samuan Ia memasukkan proposal skrip mengenai Kustoro, pria Jawa yang melakukan poligami dan memiliki 9 istri. Ia ingin memotret kehidupan Kustoro yang terlihat harmonis dengan kesembilan istrinya, bahkan saat ini, Kustoro memiliki pacar seorang gadis muda. Apakah hal ini dilakukan karena budaya, mengingat tradisi selir sudah biasa di kalangan raja Jawa? Atau karena pemahaman agamanya? Setelah revisi, Kris mengubah judul skripnya dari ‘Kustoro born with love, passion and ego’ menjadi ‘9 ½ wives’.

Rai_dan_andhikaDosen dan mahasiswa juga bisa bertemu dalam workshop yang sama. Dan itu terjadi pada Andhika Prasetya serta Rai Pandudita. Mas Andhika adalah dosen Desain Komunikasi Visual (DKV) di Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Universitas Maranatha. Dalam workshop kali ini, ia menjadi peserta di kategori Short Documentary dengan proposalnya mengenai kesenian tari Lengger di Jember, Jawa Timur yang hampir punah. Sementara Rai Pandudita adalah mahasiswanya di jurusan DKV ITB angkatan 2000. Rai masuk sebagai peserta di kategori Short Fiction. Proposalnya yang berjudul ‘In the Mood for Wong Kar-Wai’ terinspirasi oleh pernyataan ‘art imitating life imitating art’.

Irwanahmett_prima     Skrip Irwan Ahmett dan Prima mungkin yang paling abstrak, konseptual, sekaligus sederhana. Judulnya ‘Siapakah Orang Yang Paling Berbahagia di Indonesia?’ Skrip ini termotivasi dari perjalanan Iwang ke Bali. Disana ia bertemu dengan masyarakat pribumi yang sangat bahagia menjalani kehidupannya, meskipun pulau Bali sedang terpuruk karena isu bom dan terorisme. Bagi mereka, hidup adalah keyakinan untuk menjalani dan mencintai apa yang mereka percaya. Kondisi ini sangat kontrasi saat Irwan berada di Jakarta dan melihat kebahagiaan di kota besar telah dikemas sedemikian rupa. Lalu, siapa yang sebenarnya paling bahagia di negeri ini? Benarkan orang-orang yang berbahagia itulah yang membuat kita dapat tetap bertahan di tengah segala bencana?

Ali_usmanPeserta terakhir di Short Documentary adalah Ali Usman dari Rembang, Jawa Timur. Ia mengajukan proposal proyek mengenai perjalanan musafir. Musafir adalah seseorang yang melakukan perjalanan untuk menelusuri perjalanan Wali Songo dengan berjalan kaki. Perjalanan ini dilakukan untuk melarih kesabaran, kepasrahan diri dan mencari ridho Tuhan. Para Musafir tidak diperbolehkan meminta makanan, mereka hanya bisa mengambil dari apa yang jatuh dan ada di jalan. Perjalanan mereka dapat mencapai hitungan bulan sampai tahun.

Selain peserta, setiap kelas workshop juga dihadiri oleh observer alias pengamat. Para observer ini dapat mengikuti semua kelas dan ikut berdiskusi dalam setiap pembahasan skrip. Tahun ini, observer-Ira_benedicta nya lucu-lucu lho… *halah* Diantaranya adalah Ira Yuniarty dan Benedicta Stephanie. Ira memasukkan skrip tentang profil satpam di kompleksnya yang juga harus bekerja sebagai tukang sampah. Skrip ini bahkan sudah dibuat menjadi film pendek sederhana. Sementara Stephanie baru balik dari belajar film di Norwegia dan memasukkan skrip tentang pertentangan nilai pendeta Hindu di Bali dengan globalisasi.

Leonard_eztherNah, untuk Short Documentary, tutornya adalah Leonard Retel Helmrich dan Ismail Fahmi Lubis (Ezther) yang beberapa kali membuat film dokumenter tentang Indonesia. Diantaranya adalah ‘The Shape of the Moon’ (Stand van de maan) yang memenangkan Grand Juri Prize di Sundance Film Festival 2005. Selain mengembangkan skrip kita di dalam kelas, kita juga mendapat kesempatan untuk belajar dari film-film yang diputar di JiFFest 2006. Diantaranya adalah premiere film pemenang workshop JiFFest tahun lalu. Peserta workshop diberi 6 tanda masuk gratis yang dapat digunakan untuk film-film yang mengenakan tarif.

Short_fiction_fellows_andhikaNama-nama peserta yang sudah malang melintang di dunia film juga ikutan workshop tahun ini sebagai peserta, seperti Salman Aristo, Farishad Latjuba dan Michy Gustavia yang masuk di Feature Film. Sementara di kategori Short Fiction, ada mbak Wida Djamil yang belajar film di Inggris, Ari Dina Kristawan dari Metro TV, mas Yusril yang jadi dosen di STSI Padangpanjang, serta mas Eric Bachtiar yang baru balik ke Indonesia dan berlatar belakang… IT.

     Workshop dalam kelas dilakukan selama 5 hari. Metodenya adalah membahas setiap skrip dan mendapat masukan dari peserta dan observer. Tutor hanya mengarahkan dan memfokuskan isi setiap skrip. Setelah itu, kita diberikan 2 hari untuk merevisi skrip yang akan diajukan saat pitching ke depan juri pada hari penutupan JiFFest. Juri pitching untuk Short Documentary adalah Chandra Tanzil, Frank Peijnenburg (tutor untuk Short Fiction) dan Adrian Belic, sutradara film dokumenter. Tidak seperti Pitching Forum di Eagle Awards, pitching JiFFest berlangsung tertutup. Peserta diurut berdasarkan alfabet, disediakan tempat duduk dan… ditemani oleh Leonard:)

Pemenang_jiffest_script_comp_06_Kita masih sempat untuk menonton satu film sebelum malam penutupan JiFFest. Saya dan Andari nonton Hero’s Journey arahan sutradara Singapura, Grace Phan. Malam penutupan JiFFest dibuka dengan pengumuman pemenang workshop. Seperti yang sudah saya duga, Andari keluar sebagai pemenang di kategori Short Documentary. Risetnya (baik literatur, lokasi dan tokoh) memang sudah dilakukan dengan intensif. Di kategori Short Fiction, Eric Bachtiar keluar sebagai pemenang, sementara di Feature Film, hadiah jatuh kepada Salman Aristo dan Lucky Kuswandi. Ikutan workshop JiFFest tahun ini memang menyenangkan. Saya jadi tergoda untuk membuat film dokumenter dan ikutan kompetisi lain :D. Sampai jumpa di JiFFest 2007!

PS: Nanti, kalau sambungan internet udah baik lagi, saya upload ya, foto2nya. Males banget lambat sekali.

Deer guys….

Shinny_happy_people_at_68hHave I told you that once in the afternoon, when most of field reporters returned, submitted audios and wrote their reports; the time when I always avoided Jakarta’s twilight jam, I said that I wanted to grow old with you?

Well, I did.

Jalan menuju wokshop

10/10/2006
[milis] JiFFEST Script Development Workshop Reminder -5 more days.
Buset, panitianya rajin amat. Remindernya dikirim setiap hari sekarang. Hmm… boleh juga diconto buat promosi Asia Calling…

13/10/2006
[milis] JiFFEST Script Development Workshop Reminder -2 more days. You can think of film ideas in 48 hours! Then send it to us!
Gila apa… Cuma tinggal 2 hari  masih dikomporin buat nulis proposal skrip. Ehm.. susah gak sih… Liat lagi ah formulirnya nanti di rumah…

Di rumah, sambil buka formulir di komputer…
Terus buka-buka lagi buku Janji Joni
Gini kali ya bikin skrip film… Wah… gue pengen buat Dumb, Dumber and Dumbest jadi film. Gue udah tahu lagunya: ‘You are my everything’-nya Glenn Fredly dan ‘Kubenci kau dengan cintaku’-nya Tito. Gue udah tahu castnya: Duy, Mala dan Wildan. Tapi dialognya apa aja ya? Aduh, belum kepikiran. Hmm… anak LFM pasti ada yang tahu… 

14/10 /2006
Buka puasa LFM, Awaludin 3
17.00 WIB
Mana ya Budi? Dia kan suhunya film. Di milis katanya mau dateng.
“Bon, Budi datang gak?”
“Gak bisa dia. Udah bilang. Tadinya sih mau, tapi harus balik lagi ke Bandung,”
BT…

Makin malem, makin rame, makin banyak yang dateng…
Ada Sally
“Sall! Sini!”
Sally dateng…. 
“Hey mbak gimana kabarnya?”
“Baik. Masih di  Extravaganza?” *basa basi mode on*
“Masih tuh sama Nura dan Ivan,” sambil nunjuk Nura dan Ivan
“Eh… gini… lo tahu gak JiFFEST Script Development Workshop?”
“Tau. Tahun kemarin kan skrip gue masuk di Short Documentary
Anjir, aing langsung dapet orang yang tepat gini buat diinterogasi…
“Aduhh… iya ya? Eh gimana sih cara bikin skripnya? Apa harus ada Cut To, terus Voice Over terus…”
“Itu simple aja. Nulis aja apa yang pengen dibuat. Gue aja nulisnya langsung JEGER, gambar dibuka dengan sebuah kecap… abcdefg hijklmn opqrstu vwxyz 12345..”

Cepet-cepet balik pulang dan menulis sebanyak-banyaknya ide film dokumenter yang bisa dituangkan ke layar komputer. Nothing to loose. Damdudidamdam… 

15/10/2006
09.00 WIB
3192-5115
“Halo”
“Halo JiFFEST?”
“Iya.”
“Mas, ini kantornya buka sampe kapan ya? Sekarang hari terakhir masukin skrip buat workshop ya?”
“Iya. Ditunggu sampe jam 3 ya”
“Oh gitu… Mau nanya alamatnya, ini Jl. Sutan Syahrir dimana sih tepatnya? Di Menteng ya?”
“Iya, kalo dari arah Manggarai sebelum RS Bunda belok kanan, sebelum Polsek Menteng. Yang ada kijang dan Mercy Putihnya ya Mbak”
“Oh Oke Mas,’
Cepet2 ke Snappy, fotokopi, print dan ke Sutan Syahrir sebelum jam 3. 

15/11 /2006
19.30 WIB
+62-21-31925115
“Halo…”
“Halo…”
“Ini Stania? Ini Faisal dari JiFFEST” *nada ramah*
“Oh iya, bener. Ada apa Mas?”
“Skripnya yang berjudul ‘Crime reporter night’s life’ ditulis ke dalam bahasa Inggris ya?”
“Oh OK. Terus yang dua lagi gimana Mas?”
“Yang dua yang mana ya?”
“Saya kan masukin 3 skrip,”
“Oh gak usah. Cukup yang itu aja. Ditunggu sampe tanggal 24 ya,”
“Lho kenapa Mas?”
“Iya, soalnya ada juri yang gak bisa bahasa Indonesia”
“Wah, berarti saya masuk shortlisted ya?”
“Hmm…gimana ya.. gak etis ngasih tahu sekarang. Lusa cek aja lagi ya website JiFFESTnya,”
“Oh OK. Ini Faisal yang temennya Reygie ya?” *sok kenal sok deket*
“Hah? Bukan….”
“Oh OK deh Mas. Nanti aku cek websitenya. Makasih ya,” *rada malu*

17/11/2006
The participants are revealed!
Below are the names of the participants who have been selected to attend JiFFEST 2006 Script Development Workshops:

Category: Short Documentary Film Script Workshop
§ Ali Usman
§ Andhika Prasetya
§ Ardina Yunita K.
§ Irwan Ahmett
§ Kristianto Nugroho
§ Muhammad Ichsan
§ Stania Puspawardhani
§ Yuli Andari Merdikaningtyas

The workshops will be held on December 09 – 17, 2006 at Intercontinental Hotel, Jakarta

Ahhhh…senangnya! ^_^
Aku bisa menuntaskan fetisisme terhadap workshop dan ruang kelas lagi!
Terima kasih, Sally! xxx

Who views your blog the most?

I don’t know.
My blog doesn’t have site meter.
In friendster, you have to pay for that facility -it would be 4.95$/month for Basic account, 8.95$ for Plus and 14.95$ for Pro one.  In return, you can view your blog’s statistic, e.g. how many visitors per day, the average number of page views over the blog’s lifetime, where visitors are coming from, and where they’re going to.

For those who use blogspot, they can put a free site meter application and see how many times their blog being visited; the visitor’s IP address, country,
length of viewing, also their entrance and exit’s sites. For Citra, knowing
her visitor’s profile reveals how much her weblog being considered by others.

But who view my blog? That is the question.
I thought that if more people read my blog, then it would be easy for me to
find new partner when I am single :p But it didn’t.
Nevertheless, I am heartened by those who like my postings.
A young Catholic Javanese priest encouraged me to keep writing; an IT
engineer that I’ve never known before sent me a smile with message: "Hi, I
just see your blog," (I take that as a compliment); my best friend abroad
e-mailed me saying she found herself smiling when she read the ending of one
of my entries; and a senior in Bukit Duri high school whom I just met on
friendster told that he enjoys the stories I wrote here.

Recently I discovered that my ‘big boss’ is also reading my weblog.
Thankfully, he has been very supportive to me all these years ;) But ugh, I should have been more careful on writing about my officemates *looking back and forth on previous postings*.
That occurence makes me wonder about people who view my site. Besides clear commentators and technorati search, I found that my blog has 12 subscribers in Bloglines and 3 in OPML. Half of those Bloglines subscribers were made public and I only know three of them. It shorts of giving me heebie-jeebies, for a shallow reason. I usually laugh at blogsites which I consider as mere vanity fair. But I also realize that I could be other’s people object of fun too.

Blog surely served well to voyeurism. The word voyeur can define someone who receives enjoyment from witnessing other people’s suffering or misfortune. The voyeur does not directly interact with the object of their voyeurism (often unaware that they are being observed), instead observing the act from a distance by peeping through an opening or using aids such as binoculars, cameras, etc.

Yet, there are more things to consider regarding privacy on the internet. Jason Kolb points out, data (especially personal data) on the net can be used as a perfect analysis tool for marketers and politicians (or anyone who have enormous capital and wants to rule the world) to fulfill their own agenda. These mass data -which can be gained easily through search engines and aggregators- can be sliced and diced into something meaningful. The result would be a better
understanding of human behavior. Greg Yardley even gave a bolder warning: Stop treating the Internet like a book or newspaper and remember that whatever you’re looking at is simultaneously looking at you.  As Chafid Ahmad summed up, it’s a friggin’ internet for crying out loud!

Lebaran Prep

I’m not a fashionista. I’m not obsessed with clothes, bags or shoes. If I think I need additional blouse, I choose to go to the easily accessed mall or department store to buy clothes, pay it and then go back. I do window shopping sometimes, but it’s not my hobby, let alone, necessity.
So when my Mom ‘forced’ me to accompany her to Pasar Tanah Abang to buy some dresses, I was reluctant to go. And as I thought before, I was right. It was three weeks prior to Lebaran, but Pasar Tanah Abang was packed by people who wanted to prepare for the D day. And my Mom seemed to browse every store in that market! 

Ayo_ayo_dipilih_dipilih_1 Ramenya_pasar_tanah_abang

Bokap_beli_baju_koko_1Toko_baju_kokoThankfully, I can go break fasting with Gombang. We went to Ayam Ganthari Mahakam, but when we arrived, the place was already full. It’s the same with McDonalds and Pizza Hut at nearby Plaza Blok M. People already sat nicely with their ordered foods on the table, waiting the call of adzan to start eating. We finally managed to get seats at Kafe Excelso that had lots of unoccupied tables. What a day!

Ganthari_mahakam_blok_m

Review: Soulmate Too Late

Soulmate_too_late_1      Saya punya sejumlah buku chicklit. Sebagian gak saya baca sampai habis karena terlalu capek ngikutin ritmenya. Buku chicklit/momlit/metropop yang habis saya baca adalah karangan teman-teman sealmamater (halah berarti dikit banget ya… :p) karena penasaran.

Dan kemarin, waktu browsing-browsing friendster, saya lihat ternyata mbak Alia -senior di LFM- nulis buku momlit dibawah bendera Gagas Media. Saya langsung beli keesokan harinya di Indomaret depan kantor.

     Saya baru sadar bahwa kecengan SMA punya daya pesona yang bertahan cukup lama di benak penggemarnya, jauh setelah masa SMA itu sendiri lewat. Icha Rahmanti menuliskannya di Cintapuccino, saya menulisnya di sini dan sekarang, Mbak Al di ‘Soulmate Too Late’ (STL).

     STL bercerita tentang seorang ibu muda di akhir umur 20an tahun, Ory, yang mulai bekerja lagi setelah vakum selama setahun untuk melahirkan anak laki-lakinya. Di tempat kerjanya, ternyata Ory bertemu lagi dengan kecengannya zaman SMA dulu, Zidan. Dan hah… ternyata Zidan suka sama Ory sejak dulu! Wah.. apa yang akan dilakukan Ory? Apakah dia akan menerima Zidan dan meninggalkan Aldi, suaminya? Ataukah dia akan tetap setia?

     Secara tokoh utamanya adalah animator dan penulisnya sendiri juga mantan animator, kenapa gak masukin beberapa ilustrasi diantara halamannya? Kayaknya lucu juga kalau ada kartun gachapon South Park, ilustrasi poster Ghibli atau gambar si Tudung Merah dengan gaya anime ;)     

Kesan saya tentang buku ini:

Nama tokoh utamanya beras banget: Oryza Sativania :p Lalu dia punya menantu dari jenis yang sama (serealia), yaitu Zea. Saya tebak, spesiesnya Zea mays :D

KL

Bagaimana kita boleh mentakrifkan negara rantau yang penuh ragam budaya dan yunik? Ya didatengin dong bo’!
Thanks to Air Asia, yang sudah memberikan tiket gratis di akhir tahun lalu, sehingga saya bisa membelinya jauh-jauh hari.
“Hei Stania. Check out Air Asia web. They are giving away tickets for free,”
“Oh yah….,” respond hesitantly, thinking about my study,”… I will check it out,”
—couple of days later —
“Hey I already bought the tickets for September,”
“O man! That’s almost one year from now!”
“I know but I think I might have finished my study at that time…”
And guess what? September comes and I haven’t finished my thesis either! But I got the tickets on my hand and the travel must go on…

Kl_1Kuala Lumpur adalah sebuah kota yang bersih, sejauh mata memandang, akan terlihat mobil-mobil melaju teratur, dengan monorail dan Light Rail Train menghiasi langitnya mencuat di selempit gedung-gedung tinggi, sementara O_begitu_ya_kl_1penduduknya yang senantiasa tertib… Weits! Kata siapa? Coba nih liat, gue menemukan sebuah bukti ketidakdisiplinan warga Kuala Lumpur.  Tepat di bawah peringatan “DILARANG MELETAKKAN MOTOSIKAL DI KAWASAN INI”, dua sepeda motor teronggok dengan nyamannya. Ah sama sajalah Indonesia dan Malaysia…:p

Rotin_india2Julin mengajak gue makan masakan khas Malaysia kayak nasi lemak (yang adalah nasi uduk) dan roti India. Tapi tahu deh, perut gue kayaknya gak bisa menerima masakan itu, padahal di Jakarta gue bisa makan apa aja:D Beberapa hari pertama gue milih untuk gak makan dan cuma minum ice tea yang adalah teh dikasih susu putih.

Hari kedua di KL, Yinsan mendrop gue di Mesjid Jamek yang banyak terdapat kios bros produk Korea seharga 3 ringgitan per pieces tapi dijual lagi sama ibu-ibu Mobil_merdekaarisan di Jakarta sampei sepuluh kali lipatnya dalam rupiah. Awal bulan September masih hangat dengan perayaan kemerdekaan. Gue melihat banyak sekali bendera Malaysia yang terpampang. Gak cuma di tempat-tempat publik dan pemerintahan, tapi juga di kap mobil. Hemmm… kayaknya jarang di Indonesia bendera merah putih dipasang di mobil kayak gini pas 17an.

Stania_arifNah, walaupun merantau ke negeri orang, tapi hal yang membuat gue senang di KL adalah… bertemu orang Indonesia!! (halah.. gue memang tidak cocok jadi penjelajah –gak bisa makan masakan lokal, lebih suka ketemu orang Indonesia…). Gue janjian ketemu Arif di SOGO yang letaknya gak jauh dari kantornya. Kita memaksakan diri untuk berfoto (sebenarnya gue yang maksa sih :p) di depan pameran kemerdekaan di pusat perbelanjaan Medan Mara setelah makan siang.

Salah satu tempat dimana gue menghabiskan cukup banyak waktu adalah di toko Silverfishbooksbuku Silverfishbooks dekat Bangsar village. Tempatnya enak, nyaman, seperti perpustakaan sendiri dan  pemiliknya lagi ngumpulin buku karya penulis Indonesia. Gue melihat sudah ada Djenar Maesa Ayu, Putu Wijaya, Laksmi Pamuntjak, Pramoedya Ananta Toer… tapi kok gak ada Seno? Oh… apalah arti senarai sastera Indonesia tanpa Seno? :p
Tapi, sulit untuk menemukan buku berbahasa Melayu di kedai ini. Gue nyari versi bahasa Melayu Ceritalah2nya Karim Raslan gak ada. Dipajang sih, tapi bukan untuk dijual :ppp Katanya gue harus pergi ke Dewan Bahasa dan Pustaka untuk menemukan buku berbahasa Melayu.

Maka berangkatlah saya ke DBP keesokan harinya. Ternyata seperti juga di Indonesia, Malaysia sedang merayakan Bulan Bahasa. Acara ini diperkenalkan tahun 1999 untuk membina tamadun negara bangsa Malaysia dalam era globalisasi dan Stania_di_dbp pemodenan yang diharungi kini (begitulah kata mereka). Kemuncak sambutannya berlangsung setiap bulan September, dengan penglibatan masyarakat dalam pelbagai aktiviti bahasa dan sastera yang diaturkan. BBSN yang sekarang terzahir daripada suatu rentatan kegiatan yang dijalankan semenjak penubuhan DBP. Di sana, seorang staf pria yang hensem berbaik hati mempertemukan saya dengan orang-orang DBP yang bertanya “Kita kenal sasterawan Indonesia, kenapa orang Indonesia tidak kenal dengan penulis (melayu) Malaysia?” Sampai saya pulang membawa 2 buah buku prosiding tebal dengan gratis dan pesan, ‘Bawalah dan sebarkan di Indonesia,’ Nah lo!

Sore, hah, gue sudah janjian dengan Fairy Mahdzan. Sebelum kesana, gue janjian Julin_stania_karyindengan Julin dan Karyin di Petronas karena gue tidak tahu Kayu SS2, tempat kita janjian makan malam dengan Fay. Oke, menara Petronas itu tinggi banget, jadi untuk bisa motret dengan latar belakang itu, harus diambil sudut dari bawah dan itu sangat tidak dianjurkan untuk orang-orang berpipi tembam :p Jadi, lebih bagus kan kalau kita foto-foto di air mancurnya aja, lalu bilang kalau air mancur ini terletak tepat di depan Menara Petronas… hehehe…

Stania_jeroen_fay_julsKalau ada yang suka baca tulisannya Fairy dan menyangka dia anaknya berpostur tinggi besar… hahh… ternyata tidak! Fairy itu imut banget dan manis kayak Ruth Sahanaya. Kita berfoto dong bo’ kan gue banci foto… bareng Jeroen van der Linde-pengelola situs Indahnesia.com- di latar belakang yang susah dibedakan dengan lampu-lampu di SS2 (pis, Jeroen!)

While I was there, I had a chance to meet and talk with Ruhayat X, one of the founders of Neohikayat Press, a new publishing house that aimed to presents Ruhayat_xfringe voice of Malaysia. Their concern arouse from the strict language rules to use the correct Malay in literary books. He tells me that actually, the language widely spoken in Malaysia is Rojak language, the mixture between Malay and other vernacular languages. He believes that by writing the language in its spoken form made the piece more genuine and honest. The fringe voice also means to write stories that happened in society; not the ideal one, but the ‘truth’ captured by the writers. I guess I also experience the same thing with Seno’s pieces that mostly don’t relate with my personal life -but the sincerity in Seno’s writing makes him one of my favorite authors.

Fairy_chilis_bagusDespués que eso, yo fui al Mercado del Arte, no lejos de Chinatown. Fairy me llamó y encontramos en una estación de LRT cerca de su casa en Petaling Jaya. Un hecho acerca de Fairy es que ella es tan popular, pero ella es muy humilde. Fui intimidado bastante por su popularidad, pero ella es bondadoso me manejó alrededor de KL y charla. Ella es tan agradable. Fuimos a la Librería del MPH en el 1 Utama Mall y comemos en Chilis. Fuimos luego a IKEA. Un agradable, humilde y chica muy amable. Gracias.

That was my last night in KL. I had to come home again. Although I always try to convince myself that KL is no different than Jakarta, I realize that in many ways, the Malaysia’s capital has gone several steps ahead of my beloved city. Klia_expressThe public facilities that KL gov’t provides is far from Jakartans enjoys for the past…. 28 years? I know that in Jakarta, it would be hard to find cheap, comfortable and fast public transportations like monorail or LRT. Previously, I would say, “Ah, Bang Yos is building that for us, aren’t you, Bang Yos? {Awas kalo enggak!}” But when I rushed into KLCC station near Petronas underground after office hours one day, I knew that I can’t find this thing in Jakarta: people were queuing! And at that time, I recognized that we, Jakartans, Indonesians, can learn something from them.

I don’t regret that I haven’t seen a number of KL tourist sites like KL Tower, Sultan Abdul Samad/Supreme Court building (the architecture is beautiful) or Merdeka Square (that they claimed to have the highest flag pole in the world). I met my friends and amazing people. I think that’s all I ever need.

English Club

Earlier this month, I had the opportunity to see KangGuru Radio English (KGRE) activities in Madura, East Java. There, it held English Teacher Workshop and KangGuru Club Connections (KGCC) gathering. I met Mr. Kevin Dalton, KGRE’s Project ManagerMe_and_mr_dalton and Ms. Cheryl Reid, KGCC Coordinator. KGRE has assisted English language learning in Indonesia since 1989. Through its 110 radio stations across the country, the program helps to improve Oz-Indo relationship. Besides radio program, KGRE also produces magazines, maintains website, provides Teacher Workshops and facilitates English clubs. 
Ms Reid previously worked for Australian Volunteer International before joining KGRE office in Denpasar. She taught English in Pesantren Sunan Dradjat, Desa Bantar Anyar in Paciran, Lamongan through Islamic School English Language Program (ISELP). Now, she’s working to improve KGCC network.
Ms_cheryl_from_kgccKGCC Bulletin, the Pouch, profiles English Clubs that affiliated with the network. On July-September edition, it writes about Del English Club in Toba –Samosir, North Sumatra and Australia English Club in Malang. As I read through the magazine, I remember the time where I used to be a member of an English club in the college.
I decided to join English club in university when my friend, Suci, started to speak the language during the club’s recruitment interview. I was spellbound. So, there I go, applying to be ITB’s Student English Forum member. Don’t be puzzled of my crippled grammar, because we didn’t learn it in the club. As far as I remember, it’s not the activity that glued us together, but the people. We love each other! :pppp
Furthermore, SEF also appreciates local languages, so it can be flexibly changed into Student Sundanese Forum (SSF) or Student Minangese Forum (SMF), depending on the majority who gather at the club’s office :p
I didn’t have any idea what an English club’s programs are. Some fellow members thought that English club was no different than English course. Well, perhaps it can substitute conventional conversation class. Others, likely not much.
From my experience, if all the club’s members have the same level of English skills, it would be easier to develop and ‘grow’ together in mastering the language. But those who happened to have less proficiency could use the old (and powerful) technique: keep exercise it all the time. The advantage of English club compares to formal classroom course is the comfy environment and (as I told you) the people. We didn’t feel obliged to use English all the time –instead, we can use it when we wanted to (uh, is this positive or negative?). Back in SEF during my era, English Master Adrian kindly thaught us various new vocabs and idioms through his soliloquy.    
When I first joined the club, the seniors pointed at scrabble game, UNO cards (uh, this is nothing to do with English activity isn’t it?) and English books collection on the office shelves as tools to improve our language skills in a fun way. But Play Station games which Ranti –my Biology classmate- brought to the club attracted more members than the old stuff.
The activity became more regular when we were introduced to a new game of English debating. University of Indonesia’s English Debating Society held the first Indonesian Varsity English Debate or IVED in 1998, after the fall down of Soeharto. It’s a good activity since it takes minimal six people to compete and one adjudicator to give judgment. So, seven people can play and learn in the mini tournament altogether. Besides sharpening our English, debating also encourage us to gain knowledge of actual issues. Every time other varsity teams beat us in the competition, we renew our pledge to read newspapers more intensively.
In 2001, ITB won the bid to host the 4th IVED. Below is the picture of some SEF members who became the event’s committee (There are three students from Parahyangan English Debating Society or PEDS who helped us also, which are Bona, Reygie and Poppy).

Sef_ived_2001_committees_1 My experience in English club did influence the recruiting process when I was applying for jobs, but Duy’s former employer confused why she put ‘useless’ activities such as English debating in her CV.

Dumb, Dumber and Dumbest

I’m Dumb.
That’s my name.
Everyone who hear it for the first time thought that I was joking. But I was not.
And they soon realize why I was inherited the name.
I am a stutterer. I can’t speak easily, especially in front of audiences.
My hands would shake, my knees would tremble and my pant would soon get wet. I am clumsy as well, like to procrastinate and forgetful.
It’s not something I’m proud of, but these traits seem running wildly in my blood. Do people mock at me?
Sure, and the scorns even get louder if I was caught doing mistakes.
But it’s better to be underestimated. When you’re doing things correctly -even if it’s a small thing- people will give you credit; but if you are overestimated, you will carry a burden of people’s expectation that you might not want to know in a first place.

Afterall, God is very kind to me.
I am blessed by green thumbs. Tener mano para las plantas. I like taking care of plants and pinching off the plant’s growing tips is my specialty. It makes the plant send out lateral shoots and make it bushier. My bosses always satisfy because the plants juices and cells in their garden become lodged under my fingers.
Nature is my place.
Like Nabokov, I feel the highest enjoyment when I stand among butterflies and their food plants. It’s an ecstasy and behind the ecstasy is something else, which is hard to explain. It is like a momentary vacuum into which rushes all that I love. A sense of oneness with sun and stone.

But still, I’m Dumb, the careless and sloppy person.
On one important day, I was late to Kebun Garden, the place where I have been working for the past three years as a gardener. It was a prestigious centennial gardening contest my boss always wanted to participate. Seeing my great jobs with plants and lovingness to butterfly, they decided to join the competition. They believed my tender touch will make us win.
I worked my butt off to prepare for that day. I was doing extra ordinary efforts for that… but maybe because I’m Dumb, I was late and mistakenly gave a stinky fertilizer instead a nice fragrant one on the hallway side.
I was devastated. Do they know that my heart was also shattered into pieces because of that? My work owns a special room in me. I love it and watch the feeling grows everyday. It calms me and gives me meanings.
But isn’t it very human to be wrong? Perfection only belongs to the Divine.
I don’t regret it. If I have to regret all the bad things in my life, then I also have to regret the good things too. And she is one of the good things happened in my life.
Dumber.
That’s her name.
Dumber is the butterfly who dances in my tummy.
She’s my butterfly. She’s mine.
She always told me that she’s not dumber than me. In contrary, much smarter.
But I think that’s only her way to convince herself because… well, you can see it from her name, right?

I first met her when she was nervously crossing the street in front of my garden. She was almost hit by a truck if I did not pull her fast into the sidewalks. Fretfully, she explained her anxiety that day. She was a microbiology student. That early morning, her lab’s autoclave blew up when she tried to disinfect all of her glass equipments. She has already set the right temperature, checking the pressure and turned on the alarm clock. But my oh my, she fell asleep like a log, which a normal alarming clock couldn’t wake her up. Birds of the same feather flocks together and I quickly feel attached to her.
I accompanied her into a supporting group. No, not for the alcoholic one, this was a special class for students who have problems finishing their final projects experiments.
First, she would go into the front of the class and said,
“Hi. My name is Dumber….., ” she looked around and continued hesitantly,
“..and I have problems finishing my thesis…” she took a deep breath.
The crowds then replied, “HI DUMBER!!!”

I accompanied her through the sessions until graduation day.
We were inseparable.
I wrote many secret poems and stories of her during my off work in the garden.
I read countless poets and literary works to copy their skills into mine.
My life was never been better than that. I even lost my startled tongue around her.
But there comes another Dumb one day. He works as a mechanical engineer. Yes, his salary in a multinational company is twenty times higher than my gardening pay out, but nothing special about him.
The Dumb-male is a mediocre person, in my opinion.
He always utters awful jokes and his face…is soooo… mechanic!
I couldn’t care less why Dumber feels very attracted to him. And it’s a shitty thing to share a same name with someone you hate. I wish he knew manner by seeing that Dumber is mine and cautiously kept away. But he didn’t. Dumb!
One day Dumber told me that she wanted to marry him. I was panicked.
I asked Dumber,
“Why do you have to marry him?”
“Ya iyalah, masa gue mau ngejomblo terus… nanti gue dibilang perawan tua lagi. Kata orang tua, bawa sial, tauk.”
“Please stay with me. I will write you stories; I will bring you poems and poetry, I will pick the most beautiful flowers in my garden to take home everyday … Why do you even consider him to be your other half? He doesn’t write. He didn’t even understand a single verse. He only cares about money, business, flourishing and reproduce. I read Whitman, I worship Rumi and I adore Coelho. Engineer is a noble profession, and necessary to sustain life. But poetry, beauty, romance, love, these are where we stay alive for. I can give you life; I can set you free…”
“Hah? Ngomong apa sih elo? Mending lo cari pacar aja, biar lo gak ngejomblo kayak sekarang. Sana gih gih gih …”

She married him on a high hill, Bukittinggi.
I lost her forever. My butterfly has gone eternally.
I was defeated by that Dumb male.
Since then, I let him keep the name.
I decided to change mine into Dumbest.